RHEMA EZRA 3
“Memulai Pemulihan dari Mezbah Tuhan”
Pendahuluan
Kitab Ezra pasal 3 adalah salah satu bagian Alkitab yang berbicara dengan sangat kuat tentang pemulihan rohani. Pasal ini tidak menceritakan kemenangan militer, kemegahan kerajaan, atau kemakmuran ekonomi, melainkan sebuah langkah sederhana namun menentukan: membangun mezbah Tuhan. Setelah bertahun-tahun hidup dalam pembuangan, bangsa Israel akhirnya kembali ke Yerusalem—kota yang hancur, tanah yang rusak, dan masa depan yang penuh ketidakpastian. Namun di tengah keterbatasan itu, mereka membuat keputusan rohani yang sangat penting: memulai segala sesuatu dari hadirat Tuhan.
Ezra 3 mengajarkan bahwa pemulihan sejati tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam; bukan dari bangunan fisik, melainkan dari hubungan dengan Allah. Inilah pesan yang sangat relevan bagi setiap orang percaya yang sedang mengalami kehancuran, kegagalan, atau ingin memulai kembali hidupnya.
1. Latar Belakang Ezra 3: Bangsa yang Baru Pulang dari Pembuangan
Bangsa Israel telah mengalami pembuangan di Babel selama puluhan tahun akibat ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Yerusalem dihancurkan, Bait Allah diratakan dengan tanah, dan identitas rohani mereka nyaris lenyap. Namun Tuhan setia pada janji-Nya. Melalui raja Koresh dari Persia, Tuhan membuka jalan bagi bangsa Israel untuk kembali ke tanah leluhur mereka.
Ketika mereka kembali, yang mereka temukan bukanlah kota yang indah, melainkan puing-puing. Tidak ada perlindungan, tidak ada kemegahan, bahkan mereka hidup dalam ketakutan terhadap bangsa-bangsa di sekitar mereka. Secara manusiawi, yang paling masuk akal adalah membangun rumah terlebih dahulu atau tembok pertahanan. Namun Ezra 3 menunjukkan bahwa mereka melakukan hal yang berbeda.
2. Mezbah Dibangun Terlebih Dahulu: Prioritas yang Benar
Ezra 3:2 mencatat bahwa Zerubabel dan Yesua bersama para imam dan umat membangun mezbah Allah Israel. Menariknya, mezbah dibangun sebelum Bait Allah. Ini bukan kebetulan, melainkan pernyataan iman.
Mezbah melambangkan:
-
Penyembahan
-
Pertobatan
-
Hubungan dengan Tuhan
-
Ketaatan kepada firman-Nya
Dengan membangun mezbah terlebih dahulu, bangsa Israel menyatakan bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan mereka, bukan keamanan, bukan kenyamanan, dan bukan kekayaan.
3. Taat Walau Takut
Ezra 3:3 mengatakan bahwa mereka mendirikan mezbah itu walaupun mereka takut terhadap bangsa-bangsa negeri itu. Artinya, penyembahan mereka bukan dilakukan dalam kondisi aman, tetapi justru di tengah ketakutan.
Ini menunjukkan bahwa iman sejati bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan ketaatan meski rasa takut masih ada.
4. Penyembahan yang Berlandaskan Firman
Bangsa Israel mempersembahkan korban bakaran sesuai dengan yang tertulis dalam hukum Musa. Ini menunjukkan bahwa penyembahan mereka tidak asal-asalan, tetapi berlandaskan firman Tuhan.
Penyembahan sejati bukan hanya soal emosi, musik, atau ritual, tetapi ketaatan pada firman. Tanpa firman, penyembahan kehilangan arah.
5. Fondasi Bait Allah: Awal dari Proses Panjang
Pada ayat 10, dicatat bahwa akhirnya fondasi Bait Allah diletakkan. Ini bukan bangunan yang selesai, baru sebatas dasar. Namun Tuhan menghargai awal yang kecil.
Banyak orang ingin hasil instan, tetapi Tuhan bekerja melalui proses. Fondasi adalah bagian terpenting dari sebuah bangunan. Jika fondasi kuat, bangunan akan bertahan lama.
6. Tangisan dan Sorak: Dua Reaksi, Satu Pekerjaan Tuhan
Saat fondasi Bait Allah diletakkan, terjadi dua reaksi yang berbeda:
-
Orang-orang muda bersorak dengan suara nyaring
-
Orang-orang tua menangis karena mengingat kemegahan Bait Allah yang lama
Ini menggambarkan percampuran antara masa lalu dan masa depan. Tangisan bukan selalu tanda kegagalan, dan sorak bukan selalu tanda kesombongan. Keduanya hadir dalam proses pemulihan.
7. Tuhan Bekerja Melampaui Perasaan Manusia
Ezra 3:13 menyebutkan bahwa suara sorak dan tangisan bercampur sehingga tidak dapat dibedakan. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan sering kali melampaui perasaan manusia.
Pemulihan tidak selalu terasa indah di awal. Terkadang terasa pahit, menyakitkan, dan penuh kenangan lama. Namun Tuhan tetap bekerja.
8. Ezra 3 dan Kehidupan Orang Percaya Masa Kini
Ezra 3 bukan hanya kisah sejarah, tetapi cermin kehidupan rohani kita:
-
Mezbah = kehidupan doa
-
Bait Allah = kehidupan rohani yang utuh
-
Fondasi = karakter dan iman
-
Tangisan dan sorak = proses pertumbuhan iman
Ketika hidup kita runtuh karena dosa, kegagalan, atau luka, Tuhan tidak meminta kita langsung membangun segalanya. Ia hanya meminta satu hal terlebih dahulu: kembali kepada-Nya.
Penutup: Mulailah dari Mezbah
Ezra 3 mengajarkan bahwa pemulihan sejati dimulai dari mezbah, bukan dari kemegahan. Tuhan lebih tertarik pada hati yang hancur daripada bangunan yang megah. Ketika mezbah dibangun kembali, hadirat Tuhan turun, dan masa depan mulai dibentuk.
“Tuhan tidak menuntut bangunan yang sempurna, Ia hanya mencari hati yang mau kembali.”
By jeffrie Gerry & Rini