Dalam perjalanan hidup manusia, ada begitu banyak hal yang sering kita jadikan dasar: pendidikan, keterampilan, keluarga, pekerjaan, kekayaan, bahkan relasi sosial. Semua itu baik, semua itu penting, tetapi ada satu kenyataan yang secara perlahan disadari oleh manusia ketika usia bertambah dan pengalaman mengajarkan lebih banyak: segala sesuatu yang terlihat kokoh di dunia ini ternyata rapuh, dan tidak ada satu pun di antaranya yang benar-benar mampu menjadi fondasi yang kuat bagi kehidupan.
Namun ada satu fondasi yang tidak pernah lapuk, tidak berubah oleh zaman, tidak terpengaruh badai ekonomi, tidak terombang-ambing oleh keadaan, dan tidak runtuh oleh tekanan batin: Tuhan.
Artikel ini bukan sekadar renungan rohani; ini adalah sebuah perjalanan batin untuk memahami apa yang terjadi ketika Tuhan menjadi dasar hidup, apa perubahan yang muncul, bagaimana hati merespons, dan mengapa hidup yang bertumpu pada Tuhan jauh lebih stabil, terarah, dan penuh damai daripada hidup yang bertumpu pada apa pun yang sementara.
1. Manusia Membutuhkan Dasar Hidup yang Kuat
Jika kita jujur pada diri sendiri, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang rapuh. Kita mudah cemas jika sesuatu tidak berjalan seperti rencana. Kita mudah goyah ketika kegagalan datang. Kita mudah patah ketika kehilangan seseorang yang dicintai. Kita mudah bingung ketika satu pintu tertutup.
Karena itu, setiap manusia secara natural mencari sesuatu yang bisa dijadikan “dasar”. Sayangnya, banyak orang tidak sadar bahwa mereka membangun hidup di atas sesuatu yang:
-
mudah berubah
-
mudah runtuh
-
mudah menghilang
Sebagian orang menjadikan pekerjaan sebagai dasar hidup. Tetapi ketika perusahaan bangkrut atau posisi hilang, mereka merasa tak punya arti.
Sebagian orang menjadikan orang lain sebagai dasar hidup. Namun manusia bisa berubah, bisa pergi, bisa mengecewakan.
Sebagian lagi menjadikan uang sebagai fondasi. Padahal uang bisa habis, ekonomi bisa runtuh, dan harta bisa lenyap dalam sekejap.
Dan sebagian menjadikan popularitas atau penerimaan sosial sebagai pegangan. Tetapi dunia selalu berubah dan ekspektasi orang tidak pernah konsisten.
Sebaliknya, ketika Tuhan menjadi dasar hidup, ada sesuatu yang berbeda. Bukan karena hidup langsung menjadi mudah, tetapi karena kita hidup di atas sesuatu yang tidak dapat diguncangkan.
2. Ketika Tuhan Menjadi Dasar Hidup, Hidup Tidak Lagi Kosong
Banyak orang hidup dengan segala hal yang mereka miliki tetapi tetap merasa kosong. Kekosongan bukan soal miskin atau kaya, bukan soal punya pasangan atau tidak, bukan soal rumah besar atau kontrakan.
Kekosongan adalah keadaan batin yang muncul ketika seseorang tidak mengetahui untuk apa ia hidup.
Setiap manusia membutuhkan tujuan, tetapi tujuan tertinggi hanya dapat ditemukan ketika seseorang mengenal Penciptanya. Tanpa Tuhan, manusia seperti berjalan tanpa arah meski kakinya kuat; seperti berlayar tanpa kapal meski lautnya luas.
Ketika Tuhan menjadi dasar hidup:
-
tujuan menjadi jelas
-
arah menjadi nyata
-
harapan menjadi teguh
Tuhan tidak hanya memberi tujuan, tetapi menciptakan tujuan itu. Dan manusia menemukan tempatnya ketika ia kembali pada desain aslinya—hidup di dalam Tuhan.
3. Dasar yang Tidak Goyah di Tengah Goncangan Hidup
Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami badai hidup. Semua orang akan diuji, dihadapkan pada situasi yang sulit, dan melewati hari-hari ketika semua terasa terlalu berat.
Namun ada perbedaan besar antara orang yang mendasarkan hidup pada Tuhan dan orang yang mendasarkan hidup pada hal lain.
Orang yang mendasarkan hidup pada Tuhan mungkin diguncang, tetapi tidak tumbang.
Karena:
-
ia tahu Tuhan memegang kendali
-
ia tahu badai tidak selamanya
-
ia tahu ada maksud dalam setiap perjalanan
-
ia tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan
Banyak orang kuat di luar tetapi rapuh di dalam. Mereka tampak bahagia, tetapi runtuh ketika masalah datang. Sebaliknya, orang yang hidupnya berdasar pada Tuhan memiliki kedalaman batin yang tidak bisa dijelaskan—suatu keteguhan yang bukan datang dari dirinya sendiri.
Fondasi itu disebut iman.
Dan iman itu bukan sekadar percaya bahwa Tuhan ada, tetapi percaya bahwa Tuhan memegang hidupnya sepenuhnya.
4. Ketika Tuhan Menjadi Dasar Keputusan
Bagian paling praktis dari hidup yang bertumpu pada Tuhan terlihat dari cara seseorang mengambil keputusan.
Tanpa Tuhan, manusia mengambil keputusan berdasarkan:
-
perasaan
-
tekanan lingkungan
-
keadaan saat ini
-
ketakutan
-
logika manusia yang terbatas
Namun ketika Tuhan menjadi dasar hidup, seseorang belajar mengambil keputusan dengan bijaksana, sabar, dan penuh pertimbangan rohani.
Ia bertanya:
“Apa yang Tuhan inginkan dari hidupku?”
Pertanyaan ini mengubah segalanya.
Ia tidak lagi mengejar sesuatu hanya karena terlihat menguntungkan. Ia tidak lagi menghindari sesuatu hanya karena terlihat sulit. Ia tidak lagi berjalan tanpa arah atau terburu-buru.
Keputusan yang diambil berdasarkan Tuhan cenderung:
-
lebih damai
-
lebih tepat
-
lebih bertahan lama
-
lebih bebas dari penyesalan
Mengapa?
Karena keputusan itu tidak berasal dari keinginan semata, tetapi dari hikmat yang melampaui pemikiran manusia.
5. Mengapa Banyak Orang Sulit Menjadikan Tuhan Sebagai Dasar Hidup?
Ini pertanyaan yang realistik. Jika fondasi Tuhan begitu kuat dan luar biasa, mengapa banyak orang masih ragu?
Ada beberapa alasan:
1. Karena manusia ingin mengendalikan hidupnya sendiri
Salah satu hal paling sulit adalah menyerahkan kontrol. Banyak orang tidak siap mempercayai Tuhan sepenuhnya.
2. Karena mereka takut kehilangan sesuatu
Ada yang berpikir kalau ikut Tuhan, hidupnya jadi “dibatasi”. Padahal Tuhan bukan membatasi, melainkan melindungi.
3. Karena mereka belum mengenal Tuhan secara pribadi
Orang sulit mempercayai seseorang yang tidak mereka kenal.
4. Karena pengalaman pahit membuat mereka ragu
Beberapa pernah terluka, kecewa, atau merasa Tuhan tidak menolong ketika mereka membutuhkan.
Namun kebenaran tetap sama:
Tuhan selalu setia, meski manusia tidak bisa memahami rencana-Nya.
Menjadikan Tuhan sebagai dasar hidup adalah perjalanan, bukan momen instan. Itu proses mengenal, percaya, dan menyerahkan.
6. Ketika Tuhan Menjadi Dasar Kebahagiaan
Di dunia ini, banyak orang mencari kebahagiaan melalui:
-
belanja
-
liburan
-
pujian
-
hubungan cinta
-
media sosial
-
pencapaian pribadi
Tetapi kebahagiaan dari dunia selalu memiliki “kedaluwarsa”. Ketika momen itu berlalu, kebahagiaan pun padam.
Namun ketika Tuhan menjadi dasar kebahagiaan, ada sesuatu yang tidak bergantung pada keadaan luar. Seseorang bisa tetap bersyukur meski tidak memiliki semua yang ia inginkan. Ia bisa tetap damai di tengah badai. Ia bisa tetap kuat meski lemah.
Mengapa?
Karena sumber kebahagiaan itu bukan situasi, melainkan hubungan dengan Tuhan.
Ketika Tuhan menjadi dasar hidup, kebahagiaan tidak lagi harus dicari, tetapi muncul dengan sendirinya dari dalam hati.
7. Hidup Menjadi Lebih Terarah: Tuhan Memberi Kompas Batin
Ada banyak orang yang merasa hidupnya seperti berjalan tanpa peta. Mereka mencoba banyak hal, tetapi tetap merasa kosong. Mereka berpindah dari satu harapan ke harapan lain, tetapi tidak pernah benar-benar menemukan ketenangan.
Namun ketika Tuhan menjadi dasar, hidup tiba-tiba memiliki kompas. Bukan berarti semua jalan menjadi mudah, tetapi arah menjadi jelas.
Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh rute, tetapi Ia memberi cukup terang untuk melangkah satu langkah ke depan. Dan pada akhirnya, langkah-langkah kecil itulah yang membawa seseorang menuju tujuan besar yang Tuhan sediakan.
8. Ketika Tuhan Menjadi Dasar Nilai-Nilai Hidup
Nilai hidup menentukan:
-
cara seseorang memperlakukan orang lain
-
bagaimana ia memandang diri sendiri
-
cara ia menghadapi masalah
-
apa yang ia prioritaskan
-
arah akhir hidupnya
Tanpa dasar Tuhan, nilai hidup seseorang mudah berubah-ubah mengikuti tren dunia.
Namun ketika Tuhan menjadi dasar nilai:
-
seseorang menjadi lebih sabar
-
lebih mengampuni
-
lebih rendah hati
-
lebih menghargai sesama
-
lebih memikirkan masa depan kekal daripada hal duniawi
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tetapi melalui proses pertumbuhan rohani yang konsisten.
9. Hidup yang Berdasar pada Tuhan Memiliki Kedalaman yang Dunia Tidak Bisa Beri
Dunia sering mengajarkan hidup yang serba cepat, instan, dan dangkal. Setiap orang sibuk mengejar sesuatu tanpa benar-benar memahami mengapa ia mengejarnya.
Namun hidup yang berdasar pada Tuhan memiliki kedalaman batin. Ada:
-
makna dalam penderitaan
-
tujuan dalam proses
-
hikmat dalam kesalahan
-
pembelajaran dalam kegagalan
-
pengharapan dalam kehilangan
Hidup menjadi lebih dari sekadar “bertahan hidup”. Hidup menjadi perjalanan spiritual yang kaya.
10. Tuhan Sebagai Dasar Hidup Membawa Keteguhan yang Tidak Tergoyahkan
Pada akhirnya, manusia ingin merasa aman. Kita ingin hidup yang stabil. Kita ingin hati yang tenang. Kita ingin masa depan yang terjamin.
Semua hal itu hanya bisa benar-benar ditemukan dalam Tuhan.
Ketika Tuhan menjadi dasar hidup:
-
hati tidak mudah bimbang
-
pikiran tidak mudah kacau
-
jiwa tidak mudah roboh
-
hidup tidak mudah terseret arus dunia
Bukan karena masalah hilang, tetapi karena fondasinya kuat.
11. Bagaimana Memulai Menjadikan Tuhan Dasar Hidup?
Ini proses yang bisa dimulai kapan saja:
1. Kenali Tuhan melalui firman-Nya
Semakin mengenal, semakin mudah mempercayai.
2. Bangun hubungan melalui doa
Doa bukan hanya meminta, tetapi mendekat.
3. Serahkan bagian hidup yang selama ini kamu pegang terlalu erat
Tuhan tidak bekerja jika kita tidak memberi ruang.
4. Ambil keputusan berdasarkan nilai Tuhan, bukan perasaan
Inilah awal perubahan.
5. Berjalan setia meski tidak melihat hasil langsung
Keteguhan dibangun dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Kesimpulan: Hidup Dimulai Ketika Tuhan Menjadi Dasarnya
Hidup bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tetapi apa dasar dari semua yang kita lakukan.
Ketika Tuhan menjadi dasar hidup:
-
arah menjadi jelas
-
hati menjadi damai
-
keputusan menjadi bijaksana
-
kebahagiaan menjadi stabil
-
nilai hidup menjadi kuat
-
badai hidup tidak menjatuhkan
-
masa depan tidak menakutkan
Fondasi yang benar menentukan kualitas bangunan. Dan hidup manusia baru benar-benar kokoh ketika berdiri di atas Tuhan.
Jika fondasi hidupmu selama ini rapuh atau mudah goyah, mungkin inilah saatnya membangun kembali dari dasar yang benar. Sebab hidup yang bertumpu pada Tuhan bukan hanya kuat, tetapi juga penuh makna, penuh harapan, dan penuh sukacita.
By Jeffrie Gery & Rini