2 Tawarikh 35 mengajarkan tentang ketaatan dan kesungguhan hati Raja Yosia dalam merayakan Paskah sesuai firman Tuhan. Ia memimpin umat dengan taat, memulihkan ibadah, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan bangsa. Namun pasal ini juga mengingatkan bahwa ketaatan harus disertai kepekaan akan kehendak Tuhan, sebab keputusan tanpa mendengar peringatan-Nya dapat membawa konsekuensi. Tuhan rindu umat-Nya setia dan rendah hati.
RHEMA 2 TAWARIKH 35 – KESETIAAN YANG INDAH, NAMUN KEHATI-HATIAN YANG HILANG
2 Tawarikh 35 merupakan salah satu pasal yang sangat mengharukan dalam Alkitab. Pasal ini mencatat puncak ketaatan Raja Yosia kepada Tuhan, sekaligus akhir hidupnya yang tragis. Di dalamnya kita belajar bahwa kesalehan, ketaatan, dan semangat melayani Tuhan sangat berharga, tetapi ketaatan harus selalu disertai kepekaan mendengar suara Tuhan sampai akhir.
1. Latar Belakang: Siapakah Raja Yosia?
Raja Yosia adalah salah satu raja Yehuda yang paling saleh. Ia naik takhta pada usia yang sangat muda dan memerintah dengan hati yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. Dalam pasal-pasal sebelumnya, diceritakan bagaimana Yosia:
-
Membersihkan Yehuda dari penyembahan berhala
-
Memulihkan rumah Tuhan
-
Mengembalikan bangsa itu kepada hukum Taurat
2 Tawarikh 35 adalah puncak pelayanannya, ketika ia memimpin perayaan Paskah terbesar sejak zaman nabi Samuel.
2. Paskah yang Dilakukan dengan Ketaatan Penuh
Pasal ini dibuka dengan kalimat yang sangat kuat: Yosia mengadakan Paskah bagi Tuhan di Yerusalem. Ini bukan sekadar perayaan rutin, tetapi ibadah yang dilakukan sesuai dengan ketetapan firman Tuhan.
Yosia:
-
Menempatkan para imam pada tugasnya
-
Mengatur orang Lewi sesuai pembagian yang ditetapkan Daud dan Salomo
-
Menyediakan korban dari hartanya sendiri
-
Mengajak seluruh bangsa terlibat dengan tertib dan kudus
Semua dilakukan bukan asal ibadah, tetapi dengan hormat dan taat pada firman.
👉 Rhema:
Tuhan tidak mencari ibadah yang ramai, tetapi ibadah yang taat.
Tuhan tidak mencari ritual, tetapi hati yang tunduk pada firman-Nya.
3. Keteladanan Seorang Pemimpin yang Mengorbankan Diri
Hal yang sangat menyentuh dari pasal ini adalah kerelaan Yosia memberi dari miliknya sendiri. Ia tidak membebani rakyat, tetapi justru memimpin dengan memberi contoh.
Para pemimpin Lewi pun mengikuti teladan ini. Ketika pemimpin hidup benar, dampaknya menjalar ke seluruh komunitas.
👉 Rhema:
Pelayanan sejati selalu dimulai dari pengorbanan, bukan tuntutan.
Pemimpin yang benar tidak meminta, tetapi memberi.
4. Paskah Terbesar yang Pernah Dicatat
Alkitab mencatat bahwa tidak ada Paskah seperti ini sejak zaman Samuel. Ini berarti ibadah ini bukan hanya benar, tetapi juga berkenan kepada Tuhan.
Namun, pasal ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting:
Keberhasilan rohani tidak menjamin akhir yang aman jika kita berhenti mendengar Tuhan.
5. Kesalahan yang Mengubah Segalanya
Bagian paling tragis dimulai pada ayat 20. Setelah semua keberhasilan rohani itu, Yosia mengambil keputusan yang tidak berasal dari Tuhan.
Raja Mesir, Firaun Nekho, sedang berperang melawan Asyur. Ia tidak datang untuk menyerang Yehuda. Bahkan Nekho menyampaikan pesan bahwa Tuhanlah yang menyuruhnya dan meminta Yosia tidak menghalangi.
Namun Yosia:
-
Tidak bertanya kepada Tuhan
-
Tidak mendengarkan peringatan
-
Menyamarkan diri dan tetap maju berperang
👉 Rhema:
Kesalahan terbesar orang saleh bukanlah dosa besar, tetapi keputusan yang diambil tanpa bertanya kepada Tuhan.
6. Tidak Semua Nasihat Datang dari Orang “Rohani”
Yang mengejutkan, Tuhan berbicara kepada Yosia melalui seorang raja kafir. Ini mengajarkan bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menegur umat-Nya.
Namun karena kesombongan rohani atau keyakinan diri, Yosia mengabaikannya.
👉 Rhema:
Jangan menolak kebenaran hanya karena ia datang dari sumber yang tidak kita duga.
7. Akhir yang Menyedihkan
Yosia tertembak panah dan akhirnya meninggal. Seluruh Yehuda dan Yerusalem meratapi dia. Bahkan nabi Yeremia menulis ratapan khusus untuk Yosia.
Ini menunjukkan bahwa:
-
Yosia tetap dikasihi
-
Kesalahannya tidak menghapus kesalehannya
-
Namun konsekuensi tetap terjadi
👉 Rhema:
Tuhan mengampuni, tetapi keputusan tetap memiliki akibat.
8. Pelajaran Rohani bagi Kita Hari Ini
Dari pasal ini kita belajar banyak hal penting:
a. Mulai dengan benar itu baik, tetapi mengakhiri dengan benar itu lebih penting
Banyak orang memulai pelayanan dengan api, tetapi mengakhirinya dengan luka karena berhenti mendengar Tuhan.
b. Ketaatan harus terus disertai kepekaan
Jangan hidup dari kemenangan lama. Tuhan ingin kita terus bergantung pada-Nya setiap hari.
c. Kesalehan tidak kebal dari kesalahan
Orang yang paling rohani pun tetap perlu nasihat dan koreksi.
d. Dengarkan Tuhan, bahkan ketika Dia berbicara dengan cara yang tidak biasa
9. Aplikasi Pribadi
Bagi kita yang melayani Tuhan, menulis firman, atau menyebarkan Injil:
-
Jangan mengejar hasil
-
Jangan merasa sudah “cukup rohani”
-
Jangan berhenti bertanya kepada Tuhan
👉 Lebih baik lambat tapi bersama Tuhan, daripada cepat tanpa Tuhan.
10. Penutup: Hidup yang Berkenan, Bukan Sekadar Hebat
Raja Yosia adalah gambaran indah tentang hidup yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Meski akhirnya tragis, hidupnya tetap menjadi teladan besar.
Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kerendahan hati yang mau terus mendengar Dia sampai akhir hidup.
Kiranya hidup kita:
-
Dimulai dalam ketaatan
-
Dijalani dalam kerendahan hati
-
Diakhiri dalam kesetiaan
Dan biarlah setiap langkah kita berkata:
“Tuhan, tanpa Engkau aku tidak mau melangkah.”
Amin.