2 Tawarikh 36 mengingatkan bahwa penolakan berulang terhadap teguran Tuhan berujung pada kehancuran. Yehuda mengeraskan hati, menolak para nabi, hingga kasih karunia berubah menjadi penghakiman. Namun di balik pembuangan, Tuhan tetap berdaulat, membuka jalan pemulihan melalui keputusan Koresy. Rhema ini menegaskan: dengarkan firman saat masih ada waktu, bertobatlah dengan sungguh, sebab ketaatan membuka pemulihan, sementara penundaan membawa kerugian. Tuhan setia memulihkan hati yang mau kembali.
Rhema 2 Tawarikh 36
“Ketika Kesabaran Tuhan Diabaikan, Namun Kasih-Nya Tetap Membuka Jalan Pemulihan”
2 Tawarikh 36 adalah penutup kitab Tawarikh yang penuh dengan pesan rohani yang kuat dan menyentuh hati. Pasal ini bukan sekadar catatan sejarah runtuhnya Yehuda dan Yerusalem, melainkan cermin kehidupan rohani manusia ketika terus-menerus mengabaikan suara Tuhan. Di dalamnya kita melihat gabungan antara kesabaran Allah yang panjang, kerasnya hati manusia, akibat dari ketidaktaatan, serta kasih karunia Tuhan yang tetap bekerja bahkan di tengah kehancuran total.
Pasal ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah diam. Ia berbicara berulang kali melalui nabi-nabi-Nya, melalui peringatan, nasihat, bahkan teguran keras. Namun ketika firman Tuhan diabaikan, ditertawakan, dan ditolak, maka konsekuensi tidak dapat dihindari. Meski demikian, kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Bahkan di titik terendah bangsa Yehuda, Tuhan sudah menyiapkan awal yang baru.
1. Kepemimpinan Tanpa Takut Akan Tuhan
2 Tawarikh 36 dimulai dengan kisah raja-raja terakhir Yehuda: Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia. Mereka memerintah dalam waktu yang singkat dan penuh kekacauan. Ciri utama dari kepemimpinan mereka adalah satu: melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Mereka memimpin tanpa takut akan Allah, tanpa kerendahan hati, dan tanpa keinginan untuk bertobat.
Zedekia, raja terakhir Yehuda, secara khusus digambarkan sebagai pemimpin yang keras hati. Ia tidak mau merendahkan diri di hadapan Nabi Yeremia, meskipun firman Tuhan jelas disampaikan kepadanya. Ia memberontak terhadap Babel, tetapi lebih dari itu, ia memberontak terhadap Tuhan sendiri. Rhema yang muncul di sini sangat jelas: jabatan, kekuasaan, dan otoritas tanpa ketaatan kepada Tuhan akan membawa kehancuran, bukan kemuliaan.
Dalam kehidupan kita hari ini, kita mungkin tidak menjadi raja atau pemimpin bangsa, tetapi setiap orang memimpin atas hidupnya sendiri—atas keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan keputusan sehari-hari. Ketika seseorang memilih untuk berjalan menurut kehendaknya sendiri dan menyingkirkan suara Tuhan, kehancuran rohani perlahan-lahan mulai terjadi.
2. Kesabaran Tuhan yang Disia-siakan
Salah satu ayat paling menyentuh dalam pasal ini adalah ketika dikatakan bahwa Tuhan, Allah nenek moyang mereka, berulang kali mengutus para utusan-Nya karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya. Namun umat itu mengejek utusan-utusan Allah, menghina firman-Nya, dan memperolok nabi-nabi-Nya, sampai murka Tuhan bangkit dan tidak ada lagi pemulihan.
Di sini kita melihat sisi hati Tuhan yang penuh kasih. Ia tidak langsung menghukum. Ia menunggu. Ia memperingatkan. Ia mengajak umat-Nya kembali. Tetapi kesabaran Tuhan bukanlah izin untuk terus hidup dalam dosa. Ada batas waktu, ada saat di mana keputusan harus diambil.
Rhema penting bagi kita adalah: jangan pernah menganggap remeh kesabaran Tuhan. Teguran Tuhan, baik melalui firman, khotbah, peristiwa hidup, atau suara hati, adalah tanda kasih-Nya. Jika teguran itu diabaikan terus-menerus, maka yang tersisa hanyalah akibat dari pilihan kita sendiri.
3. Kehancuran Bukan Akhir, Melainkan Akibat
Ketika bangsa Yehuda terus menolak Tuhan, akhirnya kehancuran datang. Yerusalem dihancurkan, Bait Allah dibakar, tembok diruntuhkan, dan umat dibuang ke Babel. Ini bukan karena Tuhan kejam, melainkan karena umat menutup telinga dan hati mereka sendiri.
Pembuangan ke Babel adalah konsekuensi dari dosa yang tidak disesali. Namun penting untuk dipahami bahwa Tuhan tidak bersukacita atas penderitaan umat-Nya. Kehancuran ini adalah akibat logis dari kehidupan yang terpisah dari kehendak Allah.
Dalam kehidupan orang percaya, kehancuran rohani, kehilangan damai sejahtera, hancurnya relasi, dan keringnya iman sering kali bukan terjadi secara tiba-tiba. Semua itu adalah hasil dari keputusan kecil yang salah, penolakan halus terhadap firman Tuhan, dan kebiasaan menunda pertobatan.
Rhema dari bagian ini menegaskan: dosa yang dibiarkan akan tumbuh, dan akhirnya menuntut harga yang mahal.
4. Tuhan Setia pada Firman-Nya
Menariknya, 2 Tawarikh 36 juga menegaskan bahwa pembuangan ke Babel terjadi untuk menggenapi firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, bahwa tanah itu harus menikmati sabatnya selama tujuh puluh tahun. Ini menunjukkan bahwa Tuhan setia pada firman-Nya—baik janji berkat maupun peringatan.
Sering kali manusia hanya ingin mendengar janji-janji Tuhan, tetapi menutup telinga terhadap peringatan-Nya. Padahal keduanya sama-sama berasal dari kasih Tuhan. Kesetiaan Tuhan pada firman-Nya memberi kita kepastian bahwa apa yang Ia katakan pasti terjadi.
Rhema yang lahir dari kebenaran ini adalah: hidup selaras dengan firman Tuhan adalah satu-satunya jalan aman, karena firman Tuhan tidak pernah gagal.
5. Kasih Karunia yang Membuka Awal Baru
Pasal ini ditutup dengan sebuah harapan besar. Setelah kehancuran dan pembuangan, Tuhan menggerakkan hati Koresy, raja Persia, untuk mengizinkan bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah. Ini luar biasa. Tuhan memakai raja kafir untuk menggenapi rencana-Nya.
Penutup ini mengajarkan bahwa kasih karunia Tuhan lebih besar daripada kegagalan manusia. Sekalipun umat-Nya telah jatuh begitu dalam, Tuhan tetap menyediakan jalan pemulihan. Ia tidak membuang umat-Nya selamanya.
Rhema yang sangat kuat dari bagian ini adalah: selama Tuhan masih menggerakkan hati, selalu ada harapan untuk bangkit dan dipulihkan. Masa lalu yang gelap tidak menentukan masa depan orang yang mau kembali kepada Tuhan.
6. Aplikasi Rhema dalam Kehidupan Sehari-hari
2 Tawarikh 36 menantang setiap orang percaya untuk bertanya kepada diri sendiri:
-
Apakah saya masih peka terhadap teguran Tuhan?
-
Apakah saya menunda pertobatan dengan alasan “Tuhan masih sabar”?
-
Apakah saya memimpin hidup saya dengan takut akan Tuhan?
Rhema ini mengajak kita untuk hidup dengan hati yang lembut, cepat bertobat, dan taat kepada firman Tuhan. Jangan menunggu kehancuran untuk berubah. Dengarkan suara Tuhan saat Ia masih berbicara dengan lembut.
7. Penutup: Pilihan yang Menentukan Arah Hidup
Akhirnya, 2 Tawarikh 36 adalah undangan rohani. Undangan untuk memilih: tetap keras hati atau merendahkan diri; menunda pertobatan atau segera kembali; mengabaikan firman atau hidup di dalamnya.
Tuhan yang sama yang menghukum karena keadilan-Nya adalah Tuhan yang sama yang memulihkan karena kasih-Nya. Rhema ini mengingatkan kita bahwa ketaatan membawa kehidupan, sementara penolakan membawa kehancuran. Namun bagi siapa pun yang mau kembali kepada Tuhan, selalu tersedia pengharapan dan awal yang baru.
Kiranya rhema dari 2 Tawarikh 36 meneguhkan iman kita, melembutkan hati kita, dan membawa kita hidup lebih dekat dengan Tuhan, sebelum kesabaran berubah menjadi konsekuensi, dan sebelum kesempatan berubah menjadi penyesalan. Amin.